Vaksinasi Tahap II Siswa SDN Brengkolang tahun 2022

Pemerintah desa Brengkolang bekerja sama dengan SDN Brengkolang dan Puskesmas Kajen II telah melaksanakan vaksinasi untuk siswa SDN Brengkolang.

Program Vaksinasi tahap II ini dengan antusias dihadiri 111 siswa SDN Brengkolang. Kesuksesan penyelenggaraan program ini tak lepas dari peran besar pihak Pemerintah Desa, Babhinkamtibmas dan Babinsa Desa Brengkolang.

Vaksinasi Tahap II di SDN Brengkolang

Sejarah Pemerintahan Desa Brengkolang

Desa Brengkolang sejak awal pertama kalinya hutan belantara dibabat kemudian dijadikan sebuah perkampungan, pastinya sudah ada  pemimpinya, hanya saja mungkin belum merupakan bentuk pemerintahan secara resmi seperti sekarang

            Menurut penuturan beberapa sesepuh desa, sepengetahuan mereka pada masa pemeritahan belanda, pemerintah setingkat desa dipimpin oleh seorang kepala desa yang pada saat itu disebut dengan istilah Lurah Rekumba. Secara berurutan seperti yang diketahui para sesepuh, Lurah yang diingat yang secara berurutan Lurah Wijern, kemudian diganti Lurah Resban, Kemudian Lurah Rawuh, Lurah Rambat dan yang terakhir Lurah Rambat. Pada saat itu pusat pemerintahan setingkat kecamatan berada di Linggoasri, yang pada saat itu disebut “ ASTEN”. Sejak mulai pemerintah Indonesia menyatakan Proklamasinya kepemimpinan lurah rekomba bentukan Belanda itu dibubarkan, karena Indonesia telah mempunyai aturan tersendiri, dan belanda telah diusir ke negara asalnya. Sejak NKRI berdiri sampai sekarang di Desa Brengkolang telah melakukan 9 kali pergantian Kepala Desa. Kades pertama yaiitu Bapak Sutarjo ( 1954-1960) karena pada tahun 1945-1954 meskipun NKRI sudah berdiri tapi masih ada konflik keamanan dalam negeri yakni pemberontakan DI-TII, pemerintahan masih diteruskan oleh Lurah Rekomba. Dan pemerintahan bapak Sutarjo berakhir pada tahun 1960, karena Bapak kades dianggap dan melindungi pemberontak, sehingga oleh pemerintah pada saat itu ditangkap dan di penjara, sehingga jabatan kepala desapun dilepas. Kemudian posisi Kepala Desa diisi Bapak Tirtonoto, baru menjabat beberapa bulan Bp. Tirtonoto mendapat ujian yang sama, salah satu warganya ada yang ketahuan bersekongkol dengan DI-TII, sehingga pemerintah desa dianggap melindungi para pemberontak, beberapa perangkat desa dan kepala desa diamankan. Sehingga pada saat itu terjadi kekosongan pemerintahan, dan oleh pemerintah kecamatan untuk jabatan kepala desa diisi oleh Bp. Taryan salah seorang warga Desa Salit yang merupakan anggota WBU. Dari koramil 03 Kajen. Bapak Taryan memangku jabatan kurang lebih 2 Tahun, yaitu sampai tahun 1962.

            Menurut penuturan beberapa sesepuh desa, sepengetahuan mereka pada masa pemeritahan belanda, pemerintah setingkat desa dipimpin oleh seorang kepala desa yang pada saat itu disebut dengan istilah Lurah Rekumba. Secara berurutan seperti yang diketahui para sesepuh, Lurah yang diingat yang secara berurutan Lurah Wijern, kemudian diganti Lurah Resban, Kemudian Lurah Rawuh, Lurah Rambat dan yang terakhir Lurah Rambat. Pada saat itu pusat pemerintahan setingkat kecamatan berada di Linggoasri, yang pada saat itu disebut “ ASTEN”. Sejak mulai pemerintah Indonesia menyatakan Proklamasinya kepemimpinan lurah rekomba bentukan Belanda itu dibubarkan, karena Indonesia telah mempunyai aturan tersendiri, dan belanda telah diusir ke negara asalnya. Sejak NKRI berdiri sampai sekarang di Desa Brengkolang telah melakukan 9 kali pergantian Kepala Desa. Kades pertama yaiitu Bapak Sutarjo ( 1954-1960) karena pada tahun 1945-1954 meskipun NKRI sudah berdiri tapi masih ada konflik keamanan dalam negeri yakni pemberontakan DI-TII, pemerintahan masih diteruskan oleh Lurah Rekomba. Dan pemerintahan bapak Sutarjo berakhir pada tahun 1960, karena Bapak kades dianggap dan melindungi pemberontak, sehingga oleh pemerintah pada saat itu ditangkap dan di penjara, sehingga jabatan kepala desapun dilepas. Kemudian posisi Kepala Desa diisi Bapak Tirtonoto, baru menjabat beberapa bulan Bp. Tirtonoto mendapat ujian yang sama, salah satu warganya ada yang ketahuan bersekongkol dengan DI-TII, sehingga pemerintah desa dianggap melindungi para pemberontak, beberapa perangkat desa dan kepala desa diamankan. Sehingga pada saat itu terjadi kekosongan pemerintahan, dan oleh pemerintah kecamatan untuk jabatan kepala desa diisi oleh Bp. Taryan salah seorang warga Desa Salit yang merupakan anggota WBU. Dari koramil 03 Kajen. Bapak Taryan memangku jabatan kurang lebih 2 Tahun, yaitu sampai tahun 1962.

            Pada tahun 1962 dilakukan pemilihan kepala desa yang pertama, dari hasil pemilihan tersebut terpilihlah Bapak Dusrap, namun demikian Bp. Dusrap tidak lama menjabat yaitu kurang lebih 1,5 tahun, disebabkan karena berbagai hal yang kemudian Bp. Dusrap menjadi tidak bisa melanjutkan kepemimpinanya.

            Kemudian pemilihan lagi, dan Bapak Condro yang menjadi kepala desa terpilih. Beliau menjabat sekitar 3 tahun, karena sakit keras Beliau akhirnya meninggal dunia sehingga secara otomatis tidak bisa melanjutkan tugasnya. Kemudian pada tahun 1967 dilakukan pemilihan dan sebagai kepala desa terpilih adalah Bapak Ruslan. Beliau menjabat paling lama, yaitu sejak tahun 1967 hingga 1988 atau sekitar 21 tahun, entah kenapa mungkin karena pada saat itu belum diberlakukannya periodesasia kepala desa atau memang tidak ada penggantinya. Baru pada tahun 1988 dilakukan pemilihan kepala desa lagi, dan terpilihlah Bapak Rayudi untuk masa jabatan 8 tahun kedepan, pada tahun 1996 masa jabatan beliau paripurna dan untuk sementara jabatan kepala desa dipimpin seorang YTM, Yaitu Bapak Sutoro selama kurang lebih 2 tahun, kemudian pada tahun 1998 dilakukan pemilihan kepala desa dan terpilihlah Bapak Suyodo sebagai Kepala Desa Brengkolang untuk masa jabatan 1998-2006. Setelah masa jabatan berakhir pada 2006, pada bulan juni 2007 dilakukan pemilihan kepala desa kembali, dan Bapak Suyodo terpilih kembali sebagai setelah satu periode memimpin menjadi Kepala Desa Brengkolang, pada tahun 2012 dilakukan pemilihan kembali dan terpilihlah Bapak Sugiri sebagai Kepala Desa hingga tahun 2019. Kemudian pada tahun 2019 tepatnya tanggal 19 Desember dilantik Kepala Desa Terpilih periode 2019-2025 yaitu Bapak Ciswanto.


Legenda Desa Brengkolang

Legenda Desa Brengkolang

            Tidak ada bukti sejarah sebagai dasar penulisan ataupun penyusunan legenda Desa Brengkolang, karena tidak ditemukan bukti-bukti peninggalan sejarah baik berupa prasasti, artefak ataupun peninggalan lainnya berupa benda sejarah yang menguatkan legenda tersebut,hanya berdasarkan penuturan tokoh masyarakat terdahulu, konon wilayah brengkolang merupakan tempat atau arena sabung ayam, nungkin pemilihan tempat ditengah hutan menjadi alasan strategis, agar tidak terganggu oleh masyarakat umum ataupun pengawasan dari pemerintahan, entah kerajaan ataupun penguasa pada saat itu.

Dalam cerita ini dikisahkan bahwa diantara pendekar-pendekar yang mengadu ayamnya diarena sabung ayam ini ada satu pemuda yang jagonya tidak pernah terkalahkan dari jago manapun, setiap kali ditraungkan jago milik pemuda ini selalu mendapat kemenangan, pemuda ini diketahui namanya Songgo Buono yang konon masih keturunan Suto Wijoyo ataupun Joko Tingkir, berita tentang kehebatan seorang pemuda ini tersiar sampai kepolosok desa disekitar arena sabung ayam ini.

Seorang bernama Jampang Sari berkeinginan untuk menjajal kehebatan jago milik Songgo Buono, hingga pada suatu waktu pertemuanpun disepakati untuk mengadu jago milik Jampang Sari dengan Jago milik Songgo Buono, Jampang Sari nampaknya sangat ingin memenangkan dalam pertarungan jagonya tersebut, pertempuran hebat berlangsung terus menerus, kedua jago memang sama-sama kuat, Jampang Sari yang sudah sombong dan meremehkan kehebatan Songgo Buono, menjadi khawatir dan cemas akan kekuatan jagonya sendiri, Jampang Sari tidak mau menahan malu kalau kemudian Jagonya Kalah tanding, sehingga timbul niat jahat dalam diri Jampang Sari untuk main curang, saat kedua jago sedang bertarung hebat, Jampang Sari mengambil Sepotong Kayu dan melemparkannya tepat di kaki Jago milik Songgo Buono, secara bahasa dilempar dengan tidak hormat dibahasakan dengan istilah Di Brengkolang dalam bahasa daerah, sehingga jago milik Songgo Buono tersungkur ketanah.

Songgo Buono sebagai pemuda yang sudah dibekali kesaktian tidak kalah akal, kemudian diambilah sebilah bamboo ampel kuning untuk menyambung kaki jago yang patah akibat di Brengkolang oleh Jampang Sari, berkat kesaktiannya Jago tersebut terbangun kembali dan bias melanjutkan pertarungan kembali.

Belum ada yang terkalahkan dari pertarungan Jago tersebut, karena kemudian pertarungan dibubarkan, dan kedua jago tersebut hilang atau dalam bahasa jawa disebut Musna, ditempati itu hanya menyisakan sebuah batu berbentuk kerucut, dan oleh masyarakat setempat batu itu dianggap sebagai jelmaan Jago, kemudian Batu itu disebut sebagai “Watu Jago” dan ditempat itu diberi nama Candi Watu Jago, sedangkan wilayah itu disebut dengan wilayah Brengkolang, sebagai suatu kenangan peristiwa adu Jago dan adu kesaktian dua pendekar muda, dan setelah peristiwa itu, tempat itu tidak lagi pernah digunakan sebagai tempat adu ayam, konon sampai sekarang masih sering ada Jago misterius yang bergabung dengan ayam-ayam milik penduduk, Wallahu a’lam.

Dahulu Desa Brengkolang terdiri atas empat dukuh, yakni, Dukuh Gunung Tawang, Dukuh pring Ombo, Dukuh Podoroto, dan Dukuh Brengkolang itu sendiri, namun sejak akhir masa penjajahan Belanda, dimana masyarakat nusantara mulai melakukan pemberontakan terutama di pulau Jawa dan Sumatera, Pemerintah Belanda kemudian memberikan ultimatum agar Pedukuhan Pring Ombo dan Pedukuhan Gunung Tawang dijadikan satu dengan Pedukuhan Brengkolang, mungkin Belanda khawatir kedua pedukuhan itu dijadikan persembunyian gerilyawan, karena di sekitar kedua pedukuhan tersebut juga merupakan kediaman Belanda dalam mengelola perkebunan kopi dan kenini.

Visi dan Misi Desa Brengkolang

Visi : “Terwujudnya Masyarakat Desa Brengkolang yang Bermartabat dan Sejahtera.”

Misi :

  1. Keterbukaan Informasi sebagai upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat;
  2. Mengupayakan terselenggaranya pendidikan baik formal maupun non formal;
  3. Melestarikan budaya sambatan baik untuk kepentingan masyarakat dengan desa maupun sesama masyarakat;
  4. Mengupayakan layanan kesehatan secara optimal;
  5. Menjaga stabilitas sumber pangan dan hasil bumi;
  6. Menciptakan lingkungan masyarakat yang harmoni; dan
  7. Pemenuhan fasilitas umum penunjang pelayanan masyarakat.